Pengajar Plus - Komunitas Guru Indonesia

Email Cetak PDF

Lunturnya Kecintaan Dan Kebanggaan Terhadap Bahasa Indonesia

pendidikanPenggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar, terutama bahasa Inggris, dinilai mampu mengikis rasa cinta dan bangga generasi muda akan bahasa Indonesia. Padahal, pemerintah punya kewajiban untuk membina dan mengembangkan bahasa Indonesia untuk gunakan pada semua ilmu pengetahuan.

"Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara mendapat banyak rongrongan, termasuk dengan menjadikan bahasa asing sebagai bahasa pengantar di RSBI/SBI," kata Abdul Chaer, ahli bahasa Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Chaer hadir sebagai saksi ahli pemohon dalam sidang uji materi Pasal 50 ayat 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional soal RSBI/SBI di Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta, Selasa (24/4/2012).

Di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang menggandrungi bahasa Inggris, kata Abdul, pelegalan bahasa Inggris di RSBI/SBI justru menghambat rasa cinta dan bangga generasi muda pada bahasanya. "Penggunaan bahasa asing di RSBI/SBI tidak baik untuk pembinaan bahasa Indonesia," tegas Chaer.

Persoalan lainnya adalah penggunaan bahasa Inggris di RSBI/SBI justru mempersulit penyampaian materi belajar. "Jika mengacu pada prinsip belajar, bukankah pendidik semestinya menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dan sederhana? Itu lebih mudah dengan bahasa Indonesia daripada dengan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris," kata Abdul.

Praktisi pendidikan Darmaningtyas, saksi pemohon, mengatakan bahwa kebijakan RSBI/SBI justru memandang bahasa Inggris lebih bergengsi dibandingkan bahasa Indonesia. Padahal, UNESCO mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa modern karena mampu membahas hal-hal yang sifatnya abstrak.

"Justru Indonesia itu mesti mengembangkan lebih elegan bahasa Indonesia dan memperkuat ekonominya. Dengan demikian, orang-orang asing mau ke Indonesia dan belajar bahasa Indonesia," kata Darmaningtyas. Menurutnya, sekolah RSBI/SBI memang ssebuah sekolah unggulan, tetapi, kebijakannya justru membuat sekolah unggulan menjadi lebih mahal dan terbatas bagi kelompok tertentu.

 


*Sumber : edukasi.kompas.com/Kartika Maharani